Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang sangat baik dan potensial untuk memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat.  Beberapa jenis ikan mengandung omega 3 yang berfungsi untuk pertumbuhan otak manusia.  Sedangkan protein yang dihasilkan dari ikan merupakan salah satu elemen penting bagi kesehatan tubuh manusia.

Pemanfaatan daging ikan sebagai sumber protein bagi manusia sangat digalakkan.; Selain dalam bentuk daging ikan  yang langsung dapat dikonsumsi, daging ikan juga dapat diolah menjadi paste daging ikan (fish Jelly Produck) atau  dalam bahasa jepang disebut kamaboko (Suzuki 1981).  Paste daging ikan selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai makanan olahan lanjutan seperti bakso ikan, surimi, nugget, otak-otak dan kaki naga.

Otak-otak dan kaki naga merupakan hasil olahan yang cukup digemari yang saat ini tengah dikembangkan oleh masyarakat perikanan.  Karena otak-otak dan kaki naga merupakan diversifikasi dari kamaboko yang merupakan bahan untuk surimi.  Maka otak-otak dan kaki naga dapat mengikuti SNI surimi,  berdasarkan SNI No. 01–2693-1992, maka otak-otak dan kaki naga adalah diversifikasi dari kamaboko, yang memiliki standar mutu dengan elastisitas berkisar antara 26,73% – 65,66%, kadar abu antara 0,44% – 0,69%, kadar protein antara 10,44% – 16,40%, dan kadar lemak antara 0,09% – 0,55% (Suzuki 1981)

PDF Print
Konjen RI Hamburg, Teuku Darmawan saat berbincang dengan Chairman KADIN Hamburg seusai pertemuan. Peluang untuk memasarkan produk-produk perikanan khususnya hasil budidaya dari Indonesia ke pasar Jerman Utara semakin terbuka. Berbagai aturan dan regulasi ketat Uni Eropa dan Jerman mengenai standar kualitas mutu produk perikanan pada dasarnya dapat dipenuhi oleh para pengusaha/eksportir budidaya perikanan Indonesia.

Bahkan Indonesia mengambil benchmark standar kualitas mutu Uni Eropa dalam peraturan-peraturan dan aturan main industri perikanan Indonesia. Hal ini terungkap dalam pertemuan dan dialog antara Delegasi dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Republik Indonesia, sejumlah pengusaha/eksportir produk perikananIndonesia dengan pihak Kamar Dagang dan Industri Bremerhaven pada 1 Oktober 2009 dan Hamburg pada 2 Oktober 2009. Pertemuan di Hamburg turut dihadiri oleh pengusaha/importir setempat, pejabat pemerintah di bidang perikanan serta asosiasi perikanan setempat.

Melihat potensi produk-produk hasil perikanan Indonesia yang semakin baik mutunya dan semakin meningkatnya permintaan atas makanan berbahan baku ikan di Jerman, KJRI Hamburg sejak tahun yang lalu berupaya mengatur kedua pertemuan di atas. Delegasi DKP RI dipimpin oleh Dr. Made L. Nurjana, Direktur Jenderal Budidaya Perikanan Delegasi beranggotakan beberapa pejabat DKP, Ketua Komisi Rumput Laut Indonesia serta 7 pengusaha di bidang budidaya, pengolahan ikan, ikan hias serta peralatan pendukung industri perikanan.

Selain banyak membahas mengenai masalah regulasi dan sertifikasi mutu, Dirjen Budidaya Perikanan juga memberikan presentasi mengenai perkembangan potensi hasil perikanan budidaya maupun tangkapan di perairan Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, Konjen RI di Hamburg, Teuku Darmawan juga memberikan sambutannya yang antara lain menyoroti data dari Eurostat bahwa nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke pasar Jerman masih sangat kecil jumlahnya yaitu sekitar 26 juta Euro atau hanya sekitar 0,88% dari total impor produk perikanan Jerman. Diharapkan dengan adanya pertemuan ini dapat terjalin kerjasama yang baik antara kedua belah pihak untuk meningkatkan ekspor produk perikanan Indonesia ke Jerman.

Pihak KADIN (Handelskammer) Bremerhaven maupun Hamburg menanggapi sangat positif kunjungan ini dan menyampaikan akan berupaya meningkatkan kerjasamanya dengan Indonesia.

Pada kunjungan tersebut , Delegasi RI juga berkesempatan melakukan peninjauan ke Deutsche See di Bremerhaven, salah satu perusahaan pemrosesan ikan terbesar di Jerman. Disana delegasi mendapat presentasi dan melihat secara langsung bagaimana standar kualitas diterapkan dalam tiap tahap pemrosesan. Selain itu juga teridentifikasi peluang usaha untuk beberapa jenis produk ikan seperti nila dan patin.

Para pengusaha yang mengikuti kunjungan ini, terlihat antusias dapat melihat secara langsung pemrosesan ikan dengan standart tinggi . Terdapat juga ikan dari Indonesia dalam jumlah masih relatif kecil. Pengusaha tersebut juga mendapat kesempatan mengadakan pembicaraan dengan mitranya. (Sumber : KJRI Hamburg).

Cetak
Masyarakat Sumatera Barat sejak dulu mengenal ikan salai atau menyangai yaitu ikan yang dikeringkan lewat proses pengasapan. lkan salai cukup diminati, selain bergizi, rasanya juga lebih gurih dibanding ikan-ikan biasa.
Hampir semua jenis ikan dapat dibuat salai, tetapi yang paling disukai adalah salai ikan lele. Salah satu pembuat salai ikan lele di Sumatera Barat adalah UKM Family di Jorong Padang Halaban Kenagarian Sasak Pasaman Barat yang dirintis oleh Zarpendi sejak tahun 2005.

Walaupun proses pengolahannya masih secara tradisionil dan sederhana, tatapi UKM Family mampu menghasilkan sekitar 500 kg perminggunya, yang dijual Rp 75.000,-perkilogramnya ke seluruh Sumatera Barat.

Proses pengolahannya dimulai dengan menyortir lele yang baru saja di panen, dibelah dan dicuci serta diberi bumbu, kemudian baru dimasukkan ke dalam oven pengasapan selama lebih kurang 6 jam. Kemudian didinginkan, serta dikemas untuk terus dipasarkan.

Salah persoalan yang dihadapi UKM Famili ini, selain dari permodalan adalah rantai pemasaran yang masih bersifat lokal, yang hanya baru untuk Sumatera Barat. Karena itu, menurut Usman Bulanin dari Program Mitra Bahari RC Sumatera Barat, dinas terkait maupun lembaga pemasaran lainnya untuk menjalin kerjasama dan jaringan pemasaran, bahkan untuk diekspor ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.

Sejarah

Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan

Program pendidikan tinggi Teknologi Pangan di IPB secara resmi dimulai sejak berdirinya Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian (FATEMETA) pada tahun 1964. Cikal bakal bidang Teknologi Pangan sudah ada di dua fakultas pembentuk IPB yaitu Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan dalam mata ajaran Pengolahan Hasil Hewan, dan Fakultas Pertanian dan Kehutanan dalam mata ajaran Pengolahan Hasil Tanaman. Setelah berdirinya IPB pada tanggal 1 September 1963 dengan lima fakultas, maka fasilitas dan sumberdaya manusia dan bidang teknologinya sudah menyebar di fakultas-fakultas Pertanian, Kehutanan dan Peternakan sedangkan fasilitas dan sumberdaya manusia Mekanisasi menyebar di Fakultas Pertanian dan Fakultas Kehutanan.

Dalam rangka mendukung program pembangunan nasional, pemerintah menugaskan IPB untuk membentuk fakultas baru dalam teknologi pengolahan dan mekanisasi pertanian. Maka dibentuklah Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian (FATEMETA) yang terdiri atas 2 Jurusan, yaitu Jurusan Teknologi dan Jurusan Mekanisasi. Jurusan Teknologi mempunyai 3 Bidang Studi, yaitu Teknologi Pangan, Teknologi Hasil Perkebunan dan Teknologi Hasil Hutan, sedangkan Jurusan Mekanisasi mempunyai 2 ”major” yaitu ”Major” Mesin-mesin Pertanian dan ”Major” Konstruksi. Dari Fatemeta ini pulalah dikembangkan pendidikan Teknologi Hasil Pertanian/ Teknologi Pangan di Sekolah Kejuruan SMT Pertanian di Indonesia.

Pada tahun 1968 FATEMETA berganti nama menjadi Fakultas Mekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian (singkatannya tetap FATEMETA) dengan 2 jurusan yaitu Jurusan Mekanisasi Pertanian dan Teknologi Hasil Pertanian. Lulusan pertama bidang studi Teknologi Pangan terjadi pada tahun 1971 dengan gelar Sarjana (Ir) Teknologi Hasil Pertanian.

Mulai tahun 1972 IPB menjadi pionir dalam menyelenggarakan program pendidikan Sarjana S1 dengan lama belajar 4 tahun yang terdiri atas 8 semester dengan dua pilihan:yaitu teknologi atau sain. FATEMETA hanya memilih teknologi. Untuk bidang sains diterapkan pada Program Pascasarjana. Dalam pilihan bidang teknologi, di samping penguasaan teori  (knowledge) dalam Teknologi Pangan/THP, juga dituntut kompetensi keterampilan (skill) dan sikap profesional (attitude), yang diperkuat dengan kegiatan-kegiatan intensif dalam praktikum dan  demonstrasi produksi dalam Pilot Plant, kunjungan industri, serta praktek industri/lapang.

Pada tahun 1975 IPB juga menjadi pionir membuka program pendidikan Pascasarjana terstruktur dengan nama Sekolah Pascasarjana yang mencakup Strata 2 (S2, Magister Sains) dan Strata 3 (S3, Program Doktor). Dalam rangka itu di Jurusan THP membuka Program Studi Ilmu Pangan untuk S2 dengan 37–40 sks dan S3 dengan 56–60 sks.

Tahun 1981 FATEMETA Jurusan THP berkembang menjadi dua Jurusan, yaitu Teknologi Industri (TIN) dan Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP). Sementara Jurusan Mekanisasi Pertanian berganti nama menjadi Jurusan Teknik Pertanian (TEP). Program Studi S1 di Jurusan ITP disebut Program Studi Teknologi Pangan dengan gelar lulusannya Sarjana (Ir) Teknologi Pangan, sedangkan Program Studi S2 dan S3 disebut Ilmu Pangan dan lulusannya bergelar masing-masing Magister Sains (MS) dan  Doktor (Dr). Pada tahun 1989 Jurusan ITP berganti nama menjadi Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi (TPG).

Pada tahun 2002, istilah Jurusan berganti nama lagi menjadi Departemen, sehingga namanya berubah menjadi Departemen Teknologi Pangan dan Gizi. Pada tahun 2004, Departemen TPG membuka program penyelenggaraan khusus Magister Profesi Teknologi Pangan (MPTP) pada tahun 2004. Program ini banyak diikuti oleh kalangan industri dan pegawai pemerintah (terutama BPOM). Dengan adanya penajaman mandat keilmuan Departemen pada tahun 2005, nama Departemen TPG diubah lagi ke nama awal, yaitu Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) yang mandat utamanya adalah mengembangkan ilmu dan teknologi pangan, meliputi kimia, mikrobiologi, rekayasa proses, analisis, mutu dan keamanan pangan.

Sejak berdirinya hingga sekarang, Departemen ITP telah meluluskan lebih dari 4000 Teknologi Pangan serta S2 dan S3 Ilmu Pangan dan telah bekerja di berbagai instansi pemerintah dan swasta yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan sebagian di luar negeri.